Mixue Halal, Brand Lokal Panik? 20 Strategi Menghadapi Serangan Brand Nasional di Daerah Kamu.

“Bro gimana dengan adanya Mixue di daerahmu, secara produk khan ga beda jauh tuh” ………. Pertanyaan yg sempat saya tanyakan salah satu peserta Foodizz Master Class (FMC) Foodizz yang kebetulan sudah punya belasan cabang di satu daerah ajah.

“Wah aman mas, bedalah kita punya keunikan sendiri biarpun jualannya sama, terus sering melakukan inovasi serta kita lebih kenal dengan konsumen kita, selain itu harganya juga bersaing kok, kita kelola biaya dengan baik, jadi masih untung bagus”.

Pertanyaan iseng ini sebetulnya karena lagi heboh-heboh Mixue halal, exposure medianya luar biasa memang, banyak banget yang bahas dan jelas hal ini menguntungkan Mixue. Tapi anyway Sahabat Foodizz semua, sebetulnya kita perlu panik ga sih dengan agresivitas, harga dan konsep yang Mixue tawarkan?

Menurut Foodizz penting dan perlu, kenapa? Agar kita selalu waspada dan terpacu untuk terus melakukan inovasi, tapi tidak perlu juga khawatir berlebihan karena suka tidak suka khan memang sudah atau pasti hadir, artinya memang harus dihadapi, bukan hanya Mixue loh, tapi berbagai brand lain yang mungkin coming soon di daerah kamu.

Nah pertanyannya tentu, gimana yah kita menghadapi brand nasional (bahkan internasional) seperti Mixue dan brand-brand lainnya di kategori produk yang berbeda jika mereka hadir di kota kita? Nah yuk kita bahas, ada 20 strategi yang bisa Sahabat Foodizz gunakan. Let’s go!

Ghost Shopper a.k.a Pelanggan Hantu

Pagi ini seperti biasa jam 7 lewat cari coffeeshop untuk sekedar relax membuka hari dan memulai aktifitas pekerjaan. Kebetulan lagi beredar di Jakarta sehingga googling dulu di Google Maps coffeeshop terdekat, baca-baca review, cek review di TikTok, baru kemudian cek Instagramnya dan memutuskan untuk datang.

Kesan pertama, reviewnya keren-keren, tempatnya kekinian, mayan banyak yang review “berbayar dan gratis” dan dari beberapa review ini tempat asik banget untuk diskusi dan kerja. Ok let’s go, apalagi di google bukanya jam 7 pagi, cucok lah buat pencari inspirasi pagi kayak saya ini.

Sampai di lokasi jam 7.30, ternyata pintu masih tulisan CLOSE, tanya yang jaga parkir “Pak, udah buka?”, “Wah bentar mas saya tanya dulu karyawannya” …… Masuklah si Bapak ke dalem, kemudian keluar “sudah mas” sambil membalikan papan tulisan “Close” menjadi “Open” di pintu. Dalam hati saya, “buka kok izin karyawan dulu” hehe, jadi gunanya Google ditulis open jam 7 pagi apa? “Oh ini sih ownernya pasti SOP udah buka jam 7 pagi” hehe, tapi pada prakteknya di lapangan “gimana karyawannya”. Lack of control sudah pasti dan hal ini sering terjadi di banyak tempat.

Ok lah, langsung masuk deh dengan harapan bisa nyaman nih kerja dan diskusi sampe pas masuk, DHUARRR musiknya GEDE bener suaranya, keliatannya karyawannya “ENJOY” dengan musik gede ini, tapi owner yang buat coffeeshop ini, kira-kira dibuat untuk bikin “karyawan enjoy” atau konsumennya yang nyaman?. Yah sudah lah, toh ga ada pilihan juga deket-deket sini.

Dateng ke kasir, NO SMILE, kayak muka suntuk terima konsumen hehe, begitu anter kopi eh jari karyawannya pegang gelasnya di pinggiran tempat bibir menghirup nikmatnya kopi (karena gelasnya ga ada gagang, biasa kekinian” jadi ajah sedikit ngomelin “mas jangan dipegang di bagian bibir, khan ini buat diminum” sambil karyawannya nyelonong ajah.

Blom selesai nih, pas cari meja, lah kok mejanya banyak yang goyang-goyang yah, padahal untuk ukuran Coffeeshop 1.000 m2 dengan investasi miliaran nih pasti, harusnya hal-hal detail seperti ini jangan sampai terjadi. Blom lagi display gelas kaca di taro di atas bar, yg tadinya konsep keren malah jadi mirip dapur, blom lagi alat-alat pembersihnya juga di “display” tanpa disimpan di tempatnya jadi ajah merusak pandangan mata.

Ok, what’s next? Karyawan ada 7, sebagian masih merokok di ruang konsumen pula, bagian dapur keliatan pula makan sisa alpukat serving buat konsumen. Balik lagi 7 karyawan di pagi yang jumlah konsumennya 7 orang? Seriusan nih? Ga kebayang OPEX (biaya operasional) nya berapa nih, yang punya nih SULTAN kali yah, ga cari untung dari bisnisnyanya, buat amal ajah kali hehe.

Nah temen-temen saya bukan lagi komplain tapi lagi pura-pura jadi Ghost Shopper / Pelanggan Hantu yang sengaja di bayar oleh pemilik untuk pura-pura jadi pelanggan dan kemudian memberikan review jujur terkait operasional outletnya sehingga si pemilik bisa melakukan evaluasi secara menyeluruh karena dia tau, viral ajah ga cukup, dan bukan jaminan bisa menjadi sustain, karena pada akhirnya MARKETING BRING CUSTOMER, BUT OPERATION BRING CUSTOMER BACK. “Bisnis kuliner itu dimulai ketika konsumen KEMBALI MEMBELI dan MEREKOMENDASIKAN brand kita”.

Cek 6 WOW Effect yang Membuat Konsumen Harus Booking 1 bulan Buat Makan di Joogla

Kota Bandung dengan segala daya tarik kulinernya tak henti-henti memberikan pecinta kuliner kejutan. Bukan hanya makanan yang bisa memanjakan lidah dan perut tapi experience yang luar biasa. Maka tak salah jika Kota Bandung menyandang peringkat 5 besar Kota kuliner Asia bersama dengan Bangkok, Hongkong, New Delhi, dan Seoul (Detik.com: 2022). Kali ini Foodizz akan mengulas sebuah culinary experience menarik di tengah Kota Bandung, yang mungkin sudah pernah lewat di FYP TikTok sahabat Foodizz semua, yaitu Joongla Pop up Dining Experience di tengah pasar di Kota Bandung. Yang kabarnya cuma butuh 1 menit untuk full booked  selama 2 bulan! Wah, ini edan sih. Kali ini kami akan membagikan pengalaman team Foodizz ketika makan disana dan kami akan merangkum insight menarik yang Foodizz dapatkan.

Sebelumnya, Foodizz bakal jelasin sedikit apa sih Pop up dining experience itu. Jadi konsep Pop up dining experience ini mengadaptasi konsep omakase dari Jepang dimana konsumen cukup membayar satu paket makan yang sudah terdiri dari makanan pembuka, makanan utama, dan pencuci mulut. Dimana nantinya chef akan langsung melayani konsumen secara langsung mulai dari preparation sampai makanan itu disajikan. Pop up disini mengacu ke lokasi makan yang gak biasa yaitu di dalam pasar Cihapit di Kota Bandung. Sehingga dapat menghadirkan pengalaman makan yang menarik. dimana lagi kita bakal menemukan konsep makan omakase ala Jepang dengan pelayanan ala fine dining tapi lokasinya di tengah pasar tradisional?

The Journey

Kali ini penulis bersama lima team Foodizz lainnya ikutan di episode Malu-malu Kuciang Sumatera. Jadi Joongla ini akan merilis Episode baru di tiap tiga bulan dengan tema yang berbeda-beda. Kali ini adalah khasanah kuliner Sumatera yang tersaji di episode Malu-malu Kuciang Sumatera.

Petualangan dimulai dari titik kumpul dimana kami peserta diinstruksikan untuk berkumpul di Seroja Bake yang terletak di kawasan Cihapit, Kota Bandung. Di titik kumpul ini kami langsung dipandu oleh Kak Farah Mauludynna, atau beliau biasa dipanggil dengan sebutan Teh Dynna. Teh Dynna mulai bercerita  tentang konsep yang Joongla usung dan visi misi Joongla, sehingga lahirlah konsep Pop up dining experience ini. Setelah itu Teh Dynna juga menjelaskan mengapa titik kumpul pertama ini di Seroja Bake. Teh Dynna menceritakan value dari Seroja Bake dimana Seroja Bake adalah bakery with a mission. Misi Seroja Bake ingin memajukan petani lokal dengan cara mensubstitusi sebagian bahan baku yang didapatkan secara impor dengan bahan baku yang di produksi oleh petani lokal. Misi inilah yang sama-sama di usung oleh Joongla yang memprioritaskan bahan baku dari petani lokal.

Berikutnya kami diajak untuk mengenal pasar Cihapit dari sisi sejarah. Salah satunya kami ditunjukkan bangunan yang masih otentik peninggalan lama yang sekarang digunakan oleh Bakmi Tjo Kin dan Toko Kopi Djawa. Dari sana kami diajak masuk kedalam pasar melalui gang Masjid Istiqamah. Kami juga melewati salah satu destinasi wisata kuliner yang digandrungi warga Jakarta yaitu Gang Nikmat. Selama perjalanan Teh Dynna mengenalkan brand-brand kuliner lain di dalam pasar Cihapit mulai dari yang melegenda seperti Lotek Tjihapit, Warung Nasi Bu Eha, Serabi Cihapit sampai yang kekinian seperti Nasi Telur Sumber Rejeki, Bakmi Feng, Konklusi, dan masih banyak yang lainnya. Hal ini yang bikin kami makin tertarik untuk wisata kuliner di pasar Cihapit setelah ini.

Sampailah kami di depan Joongla setelah diajak muter-muter di pasar Cihapit. Pas pertama sampai tempatnya masih tertutup oleh rolling door, setelah  kami sampai langsung lah kami di sambut dengan cara rolling door nya terbuka keatas dan didalamnya sudah ada dua chef yang akan melayani kami, yaitu chef Kemal dan chef Nunu. Tempatnya berbentuk seperti dapur yang terdapat enam buah kursi untuk duduk di depannya. 

Setelah tour keliling pasar yang dipenuhi dengan cerita ditambah sambutan awal yang mengesankan, masuklah ke acara inti yaitu makan-makan. Tapi sebelum bercerita tentang pengalaman makannya, foodizz mau highlight sedikit tentang service nya.  Pertama untuk kursi sudah ditentukan sesuai nama kita jadi Waitresss yang melayani sudah hapal nama kita berdasarkan tempat duduk yang sudah ditentukan. Jadi saat Waitress ingin mengisi air atau memberikan alat makan dengan ramah Waitress menyebut nama kita yang sudah mereka hapal “Maaf Kak Syarif permisi saya tambahkan yaa airnya”. Service ala fine dining yang juara.

Di Awal dijelaskan dulu latar belakang dari tema Malu-malu kuciang Sumatera. Malu-malu kuciang ini bermaksud jika Joongla ingin berkenalan dengan kita semua sebagai episode pertama Joongla. 

Okee set makanan disini terinspirasi dari khasanah kuliner Sumatera yang kaya akan rempah, gurih, dan bersantan. Untuk makan pembuka dimulai dari dadiah yaitu yoghurt khas Sumatera Barat yang difermentasi di dalam bambu. Dadiah ini dicampur beberapa bahan seperti timun, dan makannya dengan mengolesi dadiah ini ke terong yang digoreng dengan tepung. Lalu dilanjut dengan menikmati segarnya rujak samalanga dengan citarasa asam manis pedas yang pastinya segar karena ditambah es serut jeruk kecombrang, sebuah kombinasi yang unik. Makanan berikutnya adalah mie celor Palembang menurut penulis ini si juaranya karena kuah yang kaya rempah dan rasa kaldu udang yang sangat fresh benar-benar memanjakan lidah di setiap sruputannya. Melompat ke makanan utama yaitu yang diberi judul Serambi Sumatera dada ayam yang bisa kita tau teksturnya kering dan berserat ini disulap jadi super juicy kalo di perdagingan ini si Wagyu A5 versi daging ayam, ditambah kuah yang gurih dan kental khas makanan Sumatera yang bersantan. Rangkaian hidangan ini ditutup dengan es krim kelapa yang manis dan creamy. Itu dia mungkin review singkat dari set menu Malu-malu Kuciang Sumatera dari Joongla.

Petualangan kuliner di pasar Cihapit ini ditutup dengan kami berfoto bersama dan kami dipersilahkan untuk masuk ke dalam dapurnya untuk berfoto. Sebuah pengalaman berkuliner yang benar-benar dikemas dengan mengesankan.

Saat artikel ini ditulis episode Malu-malu Kuciang mungkin sudah berakhir dan dilanjutkan dengan Episode berikutnya yang pastinya akan seru pula. Buat mau kepoin Joongla bisa cek di akun Instagram Joongla yaa.

Copyright © 2026 Kursus Foodizz